Penonton memadati kursi yang tersedia di depan panggung kecil di sirkus keliling yang sudah seminggu pentas di lapangan pinggiran kota. Mereka sedang menantikan pertunjukan ayam menari yang sejak hari pertama sirkus sudah menjadi buah bibir para pengunjung. Diam-diam mereka mengagumi kehebatan personil sirkus yang mampu melatih ayam sampai bisa menari mengikuti iringan lagu dari kaset yang diputar. Beberapa menit berlalu, pemandu acara menyapa penonton dan mengabarkan pertunjukan segera dimulai. Musik mulai diputar, si ayam yang menjadi bintang panggung diletakkan di atas piringan logam raksasa di tengah panggung. Pelan-pelan si ayam mulai berjingkat-jingkat sesuai dengan musik yang makin kencang dimainkan. Makin lama gerakan si ayam makin heboh seolah penari yang tengah kerasukan. Kakinya tidak pernah berhenti bergerak dan meloncat tinggi dan semakin tinggi. Terkadang gerakan yang dilakukannya terkesan lucu sehingga para penonton tertawa. Kadang dia terpeleset dan tubuhnya menimpa panggung, tetapi seketika itu si ayam bangkit dan kembali melompat-lompat seolah tidak mengenal lelah. Setelah dua lagu pertunjukan pun usai. Penonton yang puas terbahak-bahak berangsur meninggalkan tempat. Personil sirkus yang sejak awal pertunjukan duduk di belakang panggung menyeka keringat diwajahnya sambil tersenyum lega. Tangan kirinya mematikan lampu panggung sementara di saat bersamaan tangan kanannya mematikan kompor besar yang telah menyala tepat di bawah piringan logam raksasa sejak sebelum pertunjukan dimulai..

Si ayam menari karena kakinya kepanasan. Dia melompat-lompat seolah menari bukan karena dia suka menari, tetapi karena kakinya kepanasan tersengat lantai panggung yang membara. Dia bisa saja melompat dari panggung dan melarikan diri agar tidak perlu tersiksa lagi pada malam berikutnya. Tetapi itu tidak dilakukan si ayam karena dia tahu setelah pertunjukan yang menyakitkan ini majikannya akan memberinya makan bulir-bulir jagung lezat. Si ayam takut kalau melarikan diri, dia akan kelaparan karena dia terlalu malas mencari jagung atau makanan lainnya. Lebih baik bertahan dan menantikan bulir jagung dari majikan..

Saat menjalani kehidupan, ada di antara kita yang mengalami situasi serupa dengan si ayam bintang panggung; melakukan sesuatu dengan penuh keterpaksaan, dan merasa hanya itu yang bisa dilakukan karena tidak ada pilihan lain. Cenderung pasrah dalam menjalani hidup dan membiarkan dirinya sangat tergantung pada orang lain. Hidup itu penuh dengan pilihan yang lengkap dengan segala konsekuensinya. Anda tinggal memilih apakah hidup dalam keterpaksaan dan menekan kuat-kuat idealisme dalam hati ataukah menjadi pejuang kehidupan yang melakukan segala-sesuatunya berdasarkan ketetapan nilai-nilai kebenaran yang tertanam di hati untuk menentukan nasibnya sendiri, untuk kemuliaan diri dan orang di sekitar Anda. Tidak perlu merasa jengah atau takut dikucilkan bila pilihan hidup Anda berbeda dari kebanyakan sepanjang dasar kita adalah sendi agama, nilai-nilai moral dan kebenaran. Setiap manusia adalah pemimpin, setidaknya untuk dirinya sendiri. Di akhir nanti, kita akan dimintai pertanggungjawaban cara kita memimpin diri kita sendiri..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *