Kisah 8 tahun lalu ini masih memberikan pelajaran yang amat relevan terkait sportivitas; John McCain, kandidat presiden Amerika pada pilpres 2008 yang secara resmi dinyatakan kalah dari perebutan kursi puncak kepresidenan, menemui presiden terpilih Barack Obama. Mereka sempat berbicara empat mata selama satu jam. Saat seorang wartaman menanyakan apakah McCain mendukung kebijakan Barack Obama saat dia sudah aktif menjalankan tugas kepresidenannya, dengan jelas dan tegas dia menyatakan”Ya”. Sungguh suatu sikap sportif luar biasa dari seorang pemimpin yang baru saja melakukan persaingan politik panjang, mahal dan melelahkan. McCain jelas seorang pemimpin sekaligus negarawan.

Pada pidato pertama penerimaan resmi sebagai seorang presiden di hadapan publik Amerika, Barack Obama terlihat ingin merangkul semua golongan tanpa terkecuali. Dia meyakini semua rakyat Amerika dari segala lapisan akan bekerja sama demi kemajuan dan kejayaan Negara. Pernyataan inilah segera mendapatkan bukti dengan kunjungan kedua John McCain ke presiden terpilih. McCain seolah ingin mengajarkan kepada semua orang bahwa “persaingan telah usai dan rakyat telah menentukan pilihan mereka. Kini saatnya semua orang kembali bersatu untuk berkonsentrasi pada perbaikan semua lini dan memberikan dukungan sepenuhnya terhadap presiden terpilih”. Sikap seperti ini sungguh menyejukkan hati, terutama bagi ratusan juta pendukung John McCain yang mungkin kecewa jagoannya kalah. Sikap seperti ini jelas meredakan gejolak hati mereka dan sekaligus mengalihkan paradigma mereka untuk melupakan persaingan yang telah lalu dan kembali memusatkan energi untuk berkarya sebaik-baiknya sesuai bidang masing-masing.

Bagaimana dengan negara tercinta?

Pilkada serentak 2015 memang relatif lebih aman dibandingkan sebelumnya. Namun berita bentrokan masal antar pendukung calon bupati atau calon gubernur setelah hasil pilkada atau pilgub diumumkan toh masih terjadi. Pihak yang kalah selalu punya sejuta alasan dengan kekalahannya dan selalu mempunyai senjata yang sama untuk mengkritisan keputusan yang telah diambil; mencari kambing hitam. Selalu saja muncul komentar dari kandidat yang kalah bahwa dia telah dizalimi, telah dicurangi

Para kandidat yang dinyatakan kalah itu atau tim suksesnya bahkan tega memanfaatkan dukungan yang mereka peroleh dengan menggerakkan massa untuk melakukan demonstrasi yang acapkali berlangsung anarkis. Lebih buruk lagi apabila ketidaklegawaan ini menimbulkan bentrokan terbuka antara massa dari kedua kubu. Siapa yang rugi? Yang pertama pelaku bentrokan itu sendiri, yang kedua masyarakat umum yang bersikap netral, yang ketiga kepentingan layanan publik yang terhambat atau bahkan terhenti, dan yang terakhir transisi pergantian pemimpin daerah yang tidak jelas juntrungannya.

Situasi semacam ini akan sangat berbeda seandainya para pemimpin bisa bersikap sportif. Bukankah sebelum bersaing mereka juga menyadari bahwa hanya ada dua kemungkinan yaitu menang dan kalah? Semestinya mereka sudah menyiapkan mental untuk kedua kemungkinan itu; kalau menang harus bersikap bagaimana, kalau kalah juga harus bersikap bagaimana. Manapun kemungkinan yang akan mereka alami harus disikapi secara bijak. Jangan sampai masyarakat kebanyakan yang menjadi korban. Bisa dimengerti bahwa mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah atau bahkan negara memang membutuhkan dukungan dana yang luar biasa besar. Tapi kalau mereka menyadari bahwa hanya ada dua kemungkinan yaitu kalah atau menang, maka risiko kerugian material atau imaterial sudah harus mereka kalkukasikan sebelumnya. Kalau tidak siap kalah, ya jangan mencalonkan diri. Kalau terbukti kalah, ya harus sportif memberikan ucapan selamat kepada kandidat terpilih dan mengalihkan dukungan kepadanya.

Pemimpin yang mampu bersikap sportif justru akan menuai respek dan empati dari masyarakat. Pemimpin yang lantas mengambil jarak, bahkan memusuhi pesaingnya justru akan ditafsirkan oleh pendukungnya sebagai sikap umum yang harus mereka ambil dan lakukan terhadap kelompok yang tidak sevisi dengan mereka. Ucapan dan tindakan seorang pemimpin kerap menjadi inspirasi bagi siapa saja yang menganggapnya sebagai panutan.

Menjadi seorang pemimpin memang berat dan harus bijak, karena dia harus menjadi panutan yang segala ucapan dan tindakannya dilihat, didengar, dan ditiru oleh rakyat. Seorang pemimpin harus berhati-hati dalam bertutur kata dan mengeluarkan sikap. Tidak selayaknya sikap pribadi menjadi dasar dalam tindakan yang diambil. Semua tindakan harus selalu diawali dengan pertimbangan “Apakah sikap dan ucapan saya akan mempunyai dampak negatif terhadap pihak lain atau masyarakat luas? Apakah saya sudah memahami sudut pandang pihak lain? Apakah saya berada di situasi yang tepat untuk berucap atau melakukan tindakan ini?”

Seorang pemimpin harus mampu memahami dirinya sendiri serta mampu mengelola emosinya sehingga ucapan dan tindakannya bisa menumbuhkan respek dan kepercayaan dari masyarakat luas, bukan malah menjadi provokasi bagi sebagian masyarakat. Ucapan dan tindakan seorang pemimpin harus bisa “mendinginkan” suasana, bukan malah “memanaskan”. Seorang pemimpin yang mampu memahami diri, mengelola emosi dan memilih perilaku yang tepat, akan mampu menjadi pemimpin yang bisa memahami kebutuhan rakyatnya, membuat rakyat merasa terlindungi dan terwakili.

Pilkada gelombang kedua tahun 2017 sudah mulai terasa panasnya, utamanya kehebohan pilgub DKI Jakarta. Beranikah para pemimpin tampi berbeda? Lebih menyejukkan? Kita tunggu sama-sama..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *