Masa Rentan Stress

Tensi darah sebagian masyarakat kita meningkat dalam kurun waktu terakhir ini. Situasi perekonomian yang masih cenderung lesu, diperburuk dengan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang terkesan tidak bisa dikontrol pemerintah. Di tengah kesulitan hidup, masyarakat juga semakin muak dengan terungkapnya berbagai kasus korupsi yang dilakukan pejabat-pejabat di berbagai level dan sektor. Makin geregetan karena para pelaku korupsi itu seakan tidak tahu malu, bahkan terkesan bangga mendapatkan liputan media secara luas. Mereka tak segan tersenyum puas dan berlagak bak selebriti di depan kamera media. Belum cukup dengan segala keriuhan ini, masyarakat pun makin jengah dengan kegaduhan politik tingkat tinggi yang dipertontonkan secara terbuka dan terkesan tidak terkendali. Semua ini memberi tekanan batin yang luar biasa bagi kebanyakan orang. Ditambah dengan persoalan personal yang tentu dimiliki setiap individu, maka bisa dikatakan saat ini rakyat Indonesia tengah berada pada masa rawan stress dengan berbagai implikasi membahayakan.

Di dunia pendidikan pun sama saja. Kebijakan perubahan kurikulum nasional dan keputusan menteri pendidikan untuk menyelenggarakan computer-based test (CBT, Ujian Berbasis Komputer) saat Unas tingkat SMA telah memberikan tekanan tersendiri tidak hanya bagi siswa peserta Unas, namun juga keluarga dan pihak sekolah. Entah apa pertimbangannya, sementara pihak terkesan menjadikan Unas tahun ini sebagai ‘pamer kecanggihan’ dunia pendidikan Indonesia kepada masyarakat internasional. “Kami mampu lho..”, begitu kira-kira bahasa gampangnya yang ada di hati mereka. Berbagai masalah terkait dengan hal teknis dan non-teknis seakan diabaikan begitu saja. Di berbagai daerah, masalah server yang belum sinkron, kerap down dan overload saat uji coba masih belum ada solusi nyata sampai seminggu sebelum Unas CBT dilaksanakan. Belum lagi piranti lunak yang masih terlalu sering error saat siswa tengah mengerjakan uji coba. Tidak perlu professor untuk bisa memahami bahwa masalah seperti ini memberikan tekanan mental yang bisa membuat siswa, pihak sekolah terutama para guru, dan orang tua mengalami stress.

Padahal, tanpa adanya tekanan eksternal pun stress mudah mendera siapa pun. Tiap orang punya kadar kerentanan yang berbeda menghadapi stress. Satu hal yang dianggap sepele bagi seseorang bisa menjadi masalah yang amat mengganggu bagi orang lain.

Bagaimana Stress Terjadi? Apa dampaknya?

Stress merupakan respons terhadap tekanan. Tiap orang punya kebutuhan, keinginan dan harapan. Namun, tentu tidak selalu semua itu bisa terwujud. Stress terjadi karena sebagian orang tidak siap menerima kekalahan atau kegagalan. Dr. Hans Selye, pioneer studi terhadap stress  dalam buku The Stress of Life, 1956, menyatakan bahwa “stress is the non-specific response of the body to any demand made on it” atau respons tertentu dari tubuh terhadap tuntutan. Menurut sang pakar,  saat kita tertekan tubuh mensekresi adrenalin dan berbagai mekanisme fisiologis lainnya untuk melawan stress yang timbul, semisal otot menegang, jantung berdegup kencang, napas memburu, pupil mata membesar, sakit perut karena asam lambung meningkat dan seterusnya.

Saat intensitas stress meningkat, muncul reaksi lanjutan dari tubuh berupa disekresinya hormon cortisol yang berfungsi melonjakkan gula darah dan tekanan darah sehingga kita merasa tidak enak badan. Kondisi ini membuat tubuh menjadi ‘sakit’ dan menurunkan daya tahan. Akibatnya kondisi fisik dan mental drop sehingga kita pun sakit dan kolaps.

Martin Seligman, penulis buku Learned Optimism, menyatakan bahwa “Ada bukti meyakinkan bahwa kondisi psikologis amat mempengaruhi kesehatan. Depresi, duka dan pesimisme memperburuk kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang.” Tanpa identifikasi sekaligus penanganan yang tepat, kondisi ini bisa amat mempengaruhi kejiwaan dan tentu Anda bisa menebak hasil akhirnya. Sekarang saja jumlah pasien rumah sakit jiwa di berbagai daerah menunjukkan kecenderungan meningkat pasca Pileg. Bahkan sejumlah tempat telah mengantisipasi fenomena ini dengan menyediakan fasilitas terapi khusus bakal calon legislatif yang terancam gagal dan mengalami gangguan kejiwaan. Terkait Unas, menjelang pelaksanaannya pun sejumlah siswa kelas 12 bertumbangan ‘sakit’ yang ditengarai karena tidak kuat mental menghadapi unas.

Bukan berarti stress tidak diperlukan. Pada tingkat tertentu, stress tetap diperlukan untuk memacu kreatifitas dan produktifitas seseorang. Tidak sembarangan orang, hanya mereka yang semenjak kecil mendapatkan pendidikan karakter, penanaman nilai-nilai kehidupan dan internalisasi yang tepat dari orang tuanya, dan yang bersikap optimis menjalani kehidupan-lah yang punya kecenderungan untuk tahan menghadapi stress. Sejumlah orang bahkan mampu bekerja lebih baik dalam lingkungan kerja dengan tingkat stress tinggi. Meski begitu, bagi Anda yang merasa rentan terhadap stress pun bisa meningkatkan ketahanan terhadap stress dengan memperhatikan beberapa tips di bawah ini.

Tips Menghadapi Stress

  1. Pelajari semua kemungkinan

Mereka yang kerap terpuruk akibat stress tidak membiasakan diri untuk mempelajari semua kemungkinan yang mungkin timbul. Padahal, hal ini amat penting untuk membantu menyiapkan diri terhadap kemungkinan terburuk. Sejak awal, kita harus menerima kenyataan bahwa kita tidak selalu bisa mendapatkan apa yang kita butuhkan, inginkan dan harapkan. Bahwa tidak semua rencana kita akan berjalan sesuai dengan yang kita harapkan. Andai menyadari selalu ada kemungkinan gagal, maka bakal caleg tentu lebih legawa saat suara rakyat yang didamba tidak sebanyak yang diperkirakan. Tentu hal ini juga punya konsekuensi pada model upaya yang mereka lakukan. Bila memang tidak mampu menggelontorkan banyak uang untuk masa kampanye, kenapa harus memaksakan diri berhutang sana sini dan menjual berbagai macam aset sehingga saat gagal sontak terpuruk dan depresi? Di sisi lain, orang tua dan siswa kelas 12 dan kelas 9 pun juga harus menerima kenyataan bahwa belum tentu hasil (baca: nilai) Unas pun akan pasti sesuai harapan. Adik-adik tetap punya peluang sukses masa depan yang luar biasa meski nilai Unas-nya pas-pasan. Tetaplah belajar keras, namun terimalah hasilnya secara lapang dada. Riset menyatakan prestasi akademik hanya mempengaruhi kesuksesan karier sekitar 20%. Justru kecerdasan emosi yang pengaruhnya 80% (Daniel Goleman, Ph.D, Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ, Bantam, 1995).

  1. Hindari tuntutan yang terlampau tinggi terhadap diri sendiri

Target memang harus tinggi. Namun, menerapkan tuntutan yang terlalu tinggi terhadap diri sehingga menisbikan kegagalan dan kekalahan hanya akan memunculkan tekanan berlebihan terhadap diri sendiri. Ingat, kita tidak bisa mengontrol semua hal. Kegagalan pada satu bidang bukan berarti kegagalan di segala bidang.

  1. Kenali gejala awal stress dan hadapi

Saat stress menerpa, tubuh kita mereaksi dengan cara seperti yang tertulis di atas. Selain itu, adrenalin juga punya saluran tepat di atas otak berpikir kita, cerebral cortex. Saat adrenalin disekresi tubuh, cortex banjir adrenalin sehingga ‘lumpuh’ selama beberapa saat. Akibatnya, orang yang tengah stress tidak mampu berpikir jernih dan cenderung bertindak emosional. Situasi ini dikenal sebagai ‘pembajakan emosi’. Kasus-kasus bunuh diri adalah akibat dari situasi ini. Adik-adik jangan stress saat mengerjakan soal Unas karena dijamin malah tidak bisa berpikir lha wong otak berpikirnya sedang lumpuh. Saat emosi Anda terbajak, lakukan jeda dan tenangkan diri sejenak. Terima kesulitan yang ada dan tetap ucapkan syukur pada Allah SWT. Cara simpel ini akan mempercepat kembali aktifnya cerebral cortex.

  1. Kebahagiaan itu pilihan

Sebenarnya, kita sedih atau gembira tetaplah sebuah pilihan bagi kita sendiri. Stress dan perasaan yang timbul bukanlah akibat dari kejadian eksternal, merupakan buah dari pikiran kita sendiri. Kita sendiri yang menciptakan realita. Situasi luar hanya pemicu, tetap terserah kita menyikapinya seperti apa. Apa yang ada di pikiran kita bukanlah kebenaran hakiki. Bisa jadi apa yang kita yakini sebagai kebenaran ternyata bukan kebenaran sesungguhnya. Perbanyaklah bersyukur karena masih banyak anugerah Tuhan yang kita nikmati.

Sebagai penutup, nikmati saja kehidupan lengkap dengan segala stress yang menyertainya. Sepanjang kita tahu cara menyikapinya secara tepat, maka hidup akan senantiasa terasa indah lengkap dengan segala suka dan duka, juga keberhasilan dan kegagalan yang menyertainya.

Hery Ratno | Leadership and EQ Training Expert

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *